Erwin Info official website | Members area : Register | Sign in
Language : Indonesian English German Dutch Portuguese Russian Greek Brazilian French Spanish Arabic Korean

Tilang Elektronik Belum Sempurna



Penerapan sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (e-TLE) di perempatan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, membuat jumlah pelanggaran lalu lintas di wilayah itu menurun cukup signifikan. Penurunan pelanggaran dibandingkan sebelum penerapan tilang elektronik mencapai 48,4 persen.

Sejak Januari hingga Maret 2011, sebanyak 942 kendaraan tercatat melanggar marka jalan dan 1.131 kendaraan menerobos lampu lalu lintas. Adapun pada April-Juni 2011, kendaraan yang melanggar marka jalan menurun menjadi 458 dan 611 kendaraan yang menerobos lampu lalu lintas. Dari angka itu, pelanggaran marka lalu lintas menurun sebesar 51,4 persen dan menerobos lampu lalu lintas merosot sebanyak 46 persen.

"Secara total, jumlah pelanggaran turun dari 2.073 kendaraan ke 1.069 kendaraan," ujar kata Kepala Seksi Penindakan Pelanggaran Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Adhie Santika, Kamis (30/6/2011) di kantornya.

Penurunan jumlah pelanggaran itu, menurut Adhie, dikarenakan masyarakat merasa dipantau selama 24 jam penuh, meski tidak ada polisi di sekitarnya.

Hingga kini, sosialisasi sudah berlangsung selama tiga bulan lebih, tetapi sanksi tilang elektronik belum dilakukan. Hal ini disebabkan teknologi tilang elektronik belum sempurna. Alat bantu tilang elektronik, seperti kamera pemantau, belum mampu merekam nomor yang tercetak pada pelat nomor kendaraan secara jelas.

"Petugas sering kesulitan melihat angka di pelat. Hasil gambar masih buram, tidak jelas. Jadi belum jernih," ucap Adhie.

Oleh karena itu, sembari menyempurnakan teknologi pendukung tilang elektronik, polisi akan mengirimkan surat tilang sosialisasi dan belum ditarik bayaran. "Selama penyempurnaan itu, kami terus kirimi surat tilang sosialisasi ke pelanggar, tapi belum dikenai sanksi," imbuhnya.

Bila kamera pemantau sudah dapat merekam nomor kendaraan secara jernih, polisi pun menerapkan tilang dengan ancaman denda tertinggi, yakni Rp 500.000 untuk pelanggaran marka dan terobos lampu lalu lintas. Denda tertinggi itu sesuai dengan Pasal 287 Ayat 2 dan Pasal 287 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kalau pengendara menolak membayar tilang dan sidang, saat perpanjangan STNK mereka akan didenda sebesar nilai tilang," ujar Adhie.

Thanks For Visit To My Blogsite

0 comments:

Post a Comment

Do not Forget to comment Quest.

Thank you for Commentnya.